Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Wednesday, October 14, 2015

Elegy: Ideal Gases



Before I entrust these words upon you,
There's a vow you need to take,
Coz' once the dust settles,
Excuses are naught to be made.

After all to me,
Words maketh the man,

Sometimes we're called animals,
Coz' we have instincts,
But the other animals,
Show discipline& show compassion.

Yes?

Now then,
What are we?
It's your life,
You decide whatever you want to be.

But remember the right choice,
Would set you free,
Just like the gases,
We would never be,
As perfect&ideal,
But at least,
We've got common courtesy. 


21|3|2014

p/s: this was written and performed in a skit back when I was in Mansoura.

Thursday, April 16, 2015

Random Lines

Mind if I chime in?
With a line or two so that I could fit in,
Couple more phrases this post might make actual sense,
Random like theme so you can't complain,
Tips tracks stacks slacks cheques thumb-tacks under attack,
There! A few more words randomly put in,

Not as impressive as the others as it's plain,
Unlike an oeuvre or epitaph you might think I'm insane,
It's just euphoria with random words thrown in,
If you're reading this, yes YOU, and you've got a proper grin,
Then you get what I'm sayin'!


21st January 2015

Tuesday, January 6, 2015

Finish Line

I'm jaded.
I've been at it since '09.
This is the finish line, yes?

Please let this be, please.
I just want to leave,
Be back home with my loved ones.

For I have stood the test of time,
And with that I acknowledge,
I have suffered mental beatings,
I'm battered, bruised,
For I now know,
I have paid my dues.

I know this should be it,
Because it's the day you'll rue,
For what is a man,
If naught a gallant fool.



Saturday, November 1, 2014

Elegi : Aturan Leksikon


Susun gerak langkah,
Berkunjung ke kamar ingatanya,
Terkenang peristiwa,
Pabila jiwa dirayapi sepi,
Itulah insan,
Tatkala suka,
Dikuap damai dan tenang,
Singgah sang badai,
Memberi ingat,
Dalam suka,
Bertatih ke langit,
Tanpa disangka,
Petir memanah,
Oh perit!
Terhumban ke realiti,
Imaginasi kaku,
Kematian bicara,
Tiada lagi mimpi-mimpi,
Lolos ruh dari jasad ini.

Wednesday, June 11, 2014

Elegy: Algoritma Kehancuran


Tiada selesai masalah dunia,
Asyiknya berdegar diruang maya,
Tidur kembali sang harapan,
Kenyang melantak helah insan,
Putarlah bumi pada paksinya,
Tetap tegak tamadun manusia,
Terpasak ditambat materialis,
Nun disana hilai tawa sang Iblis.

Kerja bodoh orang gila.
Qalbu mahukan dunia baru,
Tulang empat kerat malas berkerja,
Masa terbuang semakin singkat,
Tanah dikejar semakin mampat.

Hampar tikar,
Duduk bersila,
Tanggung dua biji kelapa,
Di atas kepala,
Tutup mata,
Dengar-dengarkan,
Gelak tawa satu dunia.

Saturday, September 28, 2013

Elegi : Menjelang Subuh








Kumandang sudah memecah kesunyian, 

Masih terpadam jasad bersemayam, 
Ruhnya sukar mencari jalan pulang, 
Kisah Subuh yang sudah hilang.

Pulanglah, wahai Ruh yang berkeliaran,
Agar dapatku berdepan bersama Tuhan!


Sunday, June 17, 2012

Elegi : Kembali Bangkit



Keluar ke kota jadi pelesit,
Pulang ke kampung bagai parasit,
Lahiriah rimba dewasanya konkrit,
Termakan janji ternobatlah hipokrit,
Dahulunya sihat kininya sakit,
Parahnya hidup berpaksikan Ifrit,
Bisikan nista mindanya menyempit,
Terbentang agam di ruangan langit,
Lauh Mahfuz terlakar kisah sulit,
PercaturanNya tersusun walaupun rumit,
Alpanya manusia yang bakal bangkit,
Dipersembah nukilan Raqib dan Atid,
Segala perilaku bakal tersabit,
Biarlah qalbu terjentik walau sekelumit,
Akhirnya kembali tiadalah perit.

[6/18/2012] 

Picture taken at Langkawi 21/7/2010








[picture taken at Langkawi Island 21/7/2010]

Saturday, April 21, 2012

Puisi Kerdil buat Baginda

Qalbuku penuh dimomok debu,
Ianya hitam lambang khilafku,
Tidak kusangka dapat mendekatimu,
Wahai Habibullah,
Kaulah yang kami rindu,
Saban tahun kami berselawat,
Kononnya kami beringat-ingat,
Kalam diulang ketika pemergianmu bagai hikayat,
Ummati,ummati pelbagai makna tersurat&tersirat,
Namun kami dibuai kealpaan akan ibrah pemergianmu,
Diakhir hayatmu masih dikau mengenang kami,
Kami yang lalai sekian hari,
Kami yang makin jauh dengan peribadimu,
Kami yang tidak pertahankan hadiahNya menjadi umatmu,
Tidak langsung pernah terlintas,
Aku yang kerdil,
Aku yang hina dina,
Dapat mengamati,
Walau sehelai peninggalanmu,
Qalbu ini tersemat dengan titisan insafi,
Qalbu ini mula menangis tidak terperi,
Aqalku merangkak cuba menyusun kalami,
Ya Rasulullah!
Daku ingin kembali,
Daku ingin mencari!
Hakikat cintamu sebenar yang pudar dimamah duniawi.


p/s: tak sangka terlepas aku melawat Tanah Haram, diberi hadiah menjulang Janggut Junjungan Mulia. Hari yang tidak akan sekali ku lupakan. Akan kusambung perjalanan Ibrahku dalam siri2 seterusnya dengan izin Allah.



Friday, November 11, 2011

Elegy: Hanyut



Tanpa kompas semulajadi,
Mengapai, tercungap tanpa ketetapan hati.
Adakah kompas semulajadi dalam diri?
Apakah ianya resmi hati?
Adakah ianya panggilan jujur dari minda sendiri?
Adapun ia patuh sejati lahir dari arahan Ilahi?

Semua kita pernah hanyut,
Dalam kancah dusta sendiri,
Terperangkap dalam durjana buatan diri,
Termakan kaki dek paku ditukul kendiri.
Waima berdarah,
Punya sifat legakan hati.

Semua kita punya tompok hitam di hati,
Bersihkan diri dengan harapan baru,
Dengan suntikan kalbu Quran disisimu,
Agama dipalu di benak hatimu,
Fikrahmu dahulu lebat berdebu,
Suci kembali niat bersatu!

Punah segala punca,
Hilang arah dalam karenah minda,
Cuba mengapai peluang kedua.
Aku pun begitu juga,
Suatu masa senantiasa dipalit dosa,
Kini mencari sinar keredhaanNya.

Banyak sungguh khilafku,
Kotor sungguh sejarahku.
Tutuplah pintu-pintu itu,
Bakarlah kisah hitammu,
Simpanlah bekas-bekas abu,
Buat pengajaran bagi masa depanmu,
Pengalaman membina kematangan kalbu.









pic:all credits due to ROSENBLUMTv